BEGITULAH kata-katanya, terkesan memaksa, menyuruh atau bahkan mengancam tetapi hal ini perlu menjadi perhatian bagi para pelaku usaha dan elit korporasi di Indonesia.
Tak bisa disangkal, bahwa kita sekarang sedang memasuki era revolusi industri 4.0 ditandai dengan adanya transformasi teknologi dalam segala bidang salah satunya dalam berbisnis.
Andrew Vaz, seorang Chief Innovation Officer Deloitte menyatakan bahwa sebuah perusahaan yang nyaman dengan status quo-nya akan terkena resiko yang besar di era disrupsi dikarenakan belum berani untuk melakukan digitalisasi bisnisnya.
John Chambers, Executive ChairmanCisco System juga menyatakan bahwa sedikitnya 40 persen perusahaan bisnis akan lenyap dalam kurun waktu 10 tahun jika mereka tidak melakukan transformasi teknologi.

Revolusi Industri 4.0 yang berdiri sendiri
Revolusi Industri keempat merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari karena zaman terus berubah, keadaan sosioekonomi juga akan mengalami perubahan.
Industri 4.0 sejatinya tidak lepas dari 3 masa sebelumnya. Masa pertama terjadi pada abad 18 pertengahan yang ditandai dengan adanya penemuan mesin tenaga uap oleh James Watt untuk keperluan industri pada waktu itu.
Dilanjutkan dengan revolusi industri kedua dengan pengembangan mesin uap untuk memproduksi lebih banyak hingga perang dunia pertama.
Revolusi industri ketiga ditandai dengan digunakannya perangkat elektronik dalam industri manufaktur.
Sehingga memunculkan banyak produksi baru yang berkaitan dengan teknologi seperti mobil, kereta api, pesawat terbang, komputer, dan lain-lain.
Seolah belum selesai, kali ini dunia dihadapkan dengan revolusi Industri yang kempat yang digadang-gadang sebagai perubahan yang berbeda dari masa sebelumnya.
Dikutip dari Okezone, pendiri World Economic Forum, Klaus Schwab menyebutkan tiga alasan mengapa Industri 4.0 berbeda dari sebelumnya.
Yaitu karena faktor kecepatan, ruang lingkup, dan dampaknya terhadap sistem yang sudah ada.
Ia menyebutkan belum pernah ada kasus terdahulu yang menyamai kecepatan perubahan akibat Revolusi Industri 4.0.

Tantangan Penting
Realita yang terjadi sekarang, teknologi mengalami pengembangan, digitalisasi tak dapat dielakkan, era disrupsi menjadi kenyataan.
Menjamurnya para pelaku usaha rintisan (start-up) berbasis aplikasi yang notabene diisi oleh kalangan milenial menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha bisnis konvensional.
Kuncinya, para pemain disruptif ini akan menggeser perspektif pasar di masyarakat. Tak ayal, munculnya bisnis start-up banyak yang “mendisrupsi” bisnis konvensional atau bahkan pemerintah sekalipun.
Sebagai contohnya adalah mobil tanpa pengemudi atau driverless car. Pernahkah terbesit dalam pikiran kita apa yang akan terjadi dengan kemunculan mobil tanpa pengemudi ini?
Apa yang terjadi pada jumlah insiden kecelakaan? Mungkin bisa berkurang karena tak ada hawa nafsu manusia dalam mengendarai tersebut.

Lalu bagaimana dengan perusahaan asuransi? Kalau saja kecelakaan berkurang maka perusahaan asuransi pun akan ditinggalkan oleh para konsumennya. Karena kekhawatiran akan terjadi kecelakaan menjadi kecil.
Bagaimana dengan polisi lalu lintas? Bagaimana mereka akan menegur pengguna jalan yang nakal sementara tidak ada tubuh manusia disitu.
Atau bukan tidak mungkin jumlah polisi lalu lintas akan berkurang juga?
Lalu bagaimana dengan regulasi pemerintah mengenai mobil tanpa pengemudi ini? Dan masih banyak lagi sederet pertanyaan lain akan muncul dalam benak kita.
Bayangkan saja, dengan satu perubahan teknologi bisa memberikan efek domino kepada sektor-sektor lain.
Sebagai contoh kasus lain adalah tentang aplikasi pada ponsel pintar kita. Di era sekarang, segalanya serba ada dan mudah kita dapatkan.
Satu aplikasi di ponsel kita akan memunculkan aplikasi lain untuk saling mendukung atau memberikan alternatif lain terhadap satu aplikasi tersebut.
Aplikasi instagram sebagai contohnya, aplikasi yang tidak hanya sekadar menyimpan foto saja.
Tetapi lebih dari itu, instagram dapat berfungsi untuk menyimpan kenangan untuk jadi memori bagi anak cucu kita nanti.
Dengan munculnya instagram, memunculkan aplikasi lain seperti boomerang, layout foto, camera 360 dan masih banyak lagi.
Apa makna dibalik hal ini?
Konsumen mempunyai ekspektasi tinggi mengenai suatu produk. Karena pada dasarnya manusia ingin selalu mendapatkan lebih dari yang diinginkan.
Itulah teori daripada Hukum Gossen I. Sederhananya, era digital menstimulasi para pengembang (developer) untuk terus berkreasi sesuai dengan kebutuhan dan keinginan para konsumen.

Jangan Setengah Hati
Berdasarkan analisa diatas, terdapat 3 hal yang perlu kita cermati, pertama, Everyone is affected, semuanya akan terpengaruh tanpa terkecuali.
Karena fenomena digitalisasi adalah fenomena yang borderless alias tanpa batas.
Kedua, Customer expectation is rising, tak dapat dipungkiri bahwa konsumen adalah aset bagi kita. Para konsumen kini mempunyai ekspektasi lebih dari sebuah produk. Maka para pebisnis perlu mencermati hal ini.
Ketiga, Ignorance is bad, pengabaian atau acuh tak acuh terhadap perkembangan zaman adalah hal yang harus dihindari oleh para pengusaha dan elit korporasi negeri ini.
Sudah seharusnya para pebisnis untuk keluar dari zona nyaman dengan terus berinovasi dan berkarya lewat bidangnya masing-masing.
Dengan demikian, ada 3 cara yang bisa dijadikan solusi bagi para pebisnis untuk bisa survive di era digital ini.
Pertama, Understanding customer’s view, memahami perilaku konsumen adalah hal penting dalam berbisnis.
Dengan menjadikan konsumen sebagai sentral dalam berbisnis akan berimbas positif dalam bisnis kita.
Maka kita perlu meluangkan waktu untuk mendengar dan memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan dari konsumen kita.
Secara sederhana kita dapat memahami bahwa prinsip konsumen sekarang adalah now, mobile first, dan what’s next?.

Kedua, Put the data inside, data di era sekarang seperti ruh bagi para pebisnis. Kelengkapan data adalah modal keberhasilan dalam sebuah bisnis.
Dengan mengetahui data, kita mampu memahami apa yang terjadi dulu, sekarang, dan nanti. Itulah mengapa Big Data menjadi acuan di dalam pengambilan keputusan (decision-making).
Lebih hebatnya lagi, proses pengambilan keputusan kini sudah banyak melibatkan Intelligent Analytics seperti Machine Learning, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence.
Ketiga, Learning Experience, sejarah akan masa lalu menjadi hal penting dalam mengevaluasi sebuah perusahaan.
Karena setiap perusahaan mempunyai track-record nya masing-masing dengan segala cerita indah dan tidaknya.
Evaluasi menjadi kunci penting dalam melakukan transformasi perusahaan ke arah yang lebih baik.
Kesimpulan
Untuk itu, perubahan yang sepenuh hati dan totalitas mesti dilakukan oleh para pebisnis negeri ini. Untuk bisa bersaing dengan kompetitor asing dari berbagai negara.
Tak lupa, meski teknologi itu penting tetapi teknologi tidaklah mampu menggantikan peran manusia secara menyeluruh.
Sepintarnya sebuah robot tidak akan mampu memahami perasaan dan pola pikir manusia.
Maka, digitalisasi bisnis dengan memperhatikan aspek kemanusiaan adalah keharusan, Selamat berkompetisi dengan totalitas dan sepenuh hati. (AZM)
**Dimuat di Analisa Daily pada Kamis, 12 April 2018.