Esensi dan Pentingnya Membaca

Membaca itu sangatlah penting. Kalimat “membaca” bagi kita sudah bukan barang asing lagi bagi telinga para pembaca. Sejak kecil kita sudah diperkenalkan dengan kalimat tersebut.

Bahkan diperluas lagi dengan istilah memindai, membaca cepat, dan istilah lain ala-ala modern seiring dengan berkembangnya waktu.

Membaca yang terdiri dari tujuh huruf ini pada hakikatnya bertujuan mengasah akal kita. Mengasuh jiwa untuk saling asih terhadap sesama.

Rene Schute

Idealnya memang begitu. Realitanya kadang sedikit meleset, di era modern membaca ini seperti mengalami shifting atau pergeseran nilai.

Terbukti dari banyaknya orang-orang yang lebih rajin membaca whatsapp dibanding membaca buku yang dianggap sudah ketinggalan zaman alias jadoel.

Tetapi ke-jadoel-an sebuah buku disadari atau tidak, telah banyak memberikan kontribusi dalam menunjang peradaban hingga kini.

Lembaran demi lembaran tersebut melahirkan sosok kaum intelektual yang visioner dalam melahirkan peradaban Islam.

Yang telah mengalami renaissance 700 tahun lebih dulu sebelum barat. Walhasil, lahirlah seorang Ibnu Maskawaih dengan metode introspeksinya, Avicenna dengan kedokterannya.

Al-Farabi yang mula-mula menulis ekonomi politik yang sampai pada Machiavelli. Dan Baitul Hikmah sebagai pusat peradaban ilmu kala itu.

Pusaka-pusaka yang tak ternilai itu meninggalkan buah manis yang kini dinikmati para penuntut ilmu di zaman ini. Ihwal ini tidak bisa dipungkiri adalah hasil manifestasi dari wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah.

Yang ketika itu diperintahkan untuk iqra atau membaca. Meskipun kala itu Rasulullah adalah seorang yang ummi alias buta huruf.

Maknanya, membaca pada hakikatnya bukanlah barang remeh-temeh. Tetapi merupakan sesuatu yang sakral dalam mencerdaskan sebuah bangsa.

Sayangnya, keadaan tersebut rasanya belum berpihak pada Indonesia kini.

Paweł Kuczyński etc.

Berdasarkan studi “Most Literred Nation in the world 2016” menunjukkan minat baca Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Ini menunjukkan mutu membaca di Indonesia masih jauh dari kata baik.

Parahnya lagi, negara kita belum menetapkan daftar bacaan wajib di sekolah. Padahal di negara lain seperti Nigeria telah mewajibkan anak didiknya untuk membaca “Things Fall Apart”.

Dus, para pelajar di Iran juga diwajibkan membaca puisi karya Hafiz, Ferdowsi, Rumi, Omar Khayyam dan masih banyak contoh dari negara lain

Menurut Tere Liye, membaca dapat melatih kerendahan hati seorang insan sejati karena membaca adalah sebuah proses interaksi sebuah pemikiran dengan pemikiran yang lain.

Dengan kata lain, ketika bangsa jauh dari membaca maka tingkat kerendahan hati di dalam jiwa manusia akan mengikis dan tingkat keangkuhan meningkat.

Bangsa yang tidak membaca merupakan bangsa yang angkuh.

Kerendahan hati merupakan indikasi adanya nilai tenggang rasa, keadilan, dan kejujuran dalam sebuah bangsa.

Kerendahan hati seorang manusia juga dapat merefleksikan modernitas sebuah bangsa dan masyarakat yang madani.

Sebuah negara bernama Indonesia telah lahir tidak lepas dari para kutu buku yang melakukan perubahan besar. Sungguh, membaca dapat menjadi lentera penerang akal dan jiwa.

Agar berpendar terang mengisi relung jiwa para manusia yang kini terlalu sibuk dengan gawainya dan asyik dengan internetnya.

Dalam sehari, kita mempunyai waktu 24 Jam yang diberikan secara cuma-cuma oleh yang Maha Kuasa.

Tetapi seberapa baik kita memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku? Akankah kita merubahnya?.

~ Sebaik-baik teman adalah Buku ~ (Pepatah). (AZM)

23 Februari 2019

2 thoughts on “Esensi dan Pentingnya Membaca”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top