Siapa yang penasaran bagaimana desain UX itu dibuat? Semua orang yang menggeluti bidang UI UX pasti ingin membuat desain yang terbaik. Karena hal tersebut akan menarik bagi para penggunanya (user).
Pernah nggak berpikir bagaimana mesin pencari Google sangat mudah digunakan? Atau bagi kamu yang pernah menggunakan Google Docs tentu gampang untuk membuat sebuah dokumen.
Itu semua karena Google menerapkan konsep user experience (UX) yang baik untuk penggunanya. Sehingga hampir semua orang di dunia ini menggunakan mesin pencari google untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tentu ada banyak prinsip desain UX di luar sana yang dapat kamu baca. Namun, artikel ini akan menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas mengenai 5 teori desain UX.
Nah, supaya gak bertele-tele, berikut adalah 5 teori desain UX yang kamu perlu tahu agar desain kamu semakin menarik dan dapat memudahkan para pengguna.
1. The Aesthetic-Usability Effect
Sederhananya, konsep ini menjelaskan kalau tampilan sebuah desain itu menarik, pengguna akan lebih toleran kalau ada masalah kecil (minor usability issues) pada user experience-nya. Ingat, ini hanya berlaku untuk masalah minor bukan masalah mayor.
Artinya, user interface (UI) di sini menjadi penting untuk memanjakan mata para pengguna ketika menggunakan sebuah aplikasi atau website.
Contoh: Jika kamu mengunjungi website Apple, kamu akan melihat betapa mereka menampilkan produknya dengan sangat menarik. Kombinasi desain 3D dengan sudut pandang easometric mampu memanjakan mata para pengunjungnya.

2. Doherty Threshold
Simpelnya, ketika pengguna sedang menjalankan aktivitas seperti mengunduh file atau memesan makanan, maka sistem tersebut harus memberikan feedback kepada user.
Menurut banyak sumber, idealnya respon kepada user itu kurang dari 400ms. Untuk menjaga pengguna tetap produktif untuk menggunakan aplikasi atau website kamu.
Jika responnya lebih dari 400ms, maka perlu disediakan progress bar untuk mengetahui sejauh mana aktivitas itu berjalan. Jangan sampai pengguna bingung atau tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Contoh: Ketika kamu mengunduh file, maka umumnya ada download bar yang menjelaskan sejauh mana file tersebut diunduh.
Contoh lain adalah ketika kamu memesan makanan secara daring, maka akan ditampilkan progress bar untuk tahu proses pemesanan makanan kamu sampai mana.
Di bawah ini adalah contoh penerapan Doherty Threshold dari website deliveroo.

3. Fitts’s Law
Teori ini menjelaskan tentang berapa banyak waktu yang digunakan untuk mencapai tombol. Ini tergantung pada jarak tombol dengan kursor dan juga ukuran dari tombol tersebut.
Maknanya, semakin kecil sebuah tombol dan semakin jauh tombol tersebut maka akan menyulitkan pengguna untuk menjalankan programnya.
Contoh: kamu bisa melihat pada website Envato di bawah ini. bayangkan kursor mouse kamu terfokus pada logo situs tersebut. Selanjutnya, kamu diarahkan untuk mengklik tombol “take the tour” untuk melihat apa saja layanan yang ditawarkan oleh Envato.
Efisiensi pergerakan ini dari satu posisi ke posisi lain adalah apa yang ingin ditunjukkan oleh hukum Fitts.
Berikut adalah contoh penerapan teori Fitts pada website envato.

4. Miller’s Law
Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki ingatan jangka pendek (short-term memory) yang hanya mampu mengingat sebuah objek yaitu 7 (+/-2).
Ketika menampilkan informasi di website atau aplikasi, idealnya dikelompokkan kurang dari 9 objek. Namun angka maksimal yang ideal adalah 7 objek. Kurang dari 7 objek itu lebih baik.
Teori ini akan membantu para pengguna untuk mengingat dan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
Sebagai contoh: kalau kamu ingin mengingat angka (123987654), akan lebih mudah jika dibagi menjadi bagian-bagian kecil. Maka hasilnya (+1-239-987-654).
Contoh lain adalah pada tampilan produk samsung S22 di website-nya. Mereka memberikan 3 pilihan model kepada konsumen. Dengan ekspektasi konsumen lebih mudah mengingat dan membelinya.

Bonus gambar terakhir tentang konsep Miller’s law.

5. Zeigarnik Effect
Teori ini menjelaskan bahwa manusia lebih mudah mengingat hal yang belum diselesaikan daripada yang sudah selesai.
Untuk itu, alangkah baiknya jika pengguna dibuatkan progress bar untuk aktivitas yang belum selesai. Tujuannya adalah untuk mengingatkan pengguna agar menyelesaikan tugasnya.
Selain itu, animasi untuk progress bar juga perlu dibuat yang menyenangkan (satisfying) layaknya bermain game (gamifikasi). Sehingga pengguna terpancing untuk menyelesaikan tugasnya.
Contoh: pada gambar di bawah ini pengguna ditampilkan tahapan dalam menyelesaikan sebuah tugas dengan desain layaknya sebuah game.

Penutup
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa 5 teori desain UX sangat penting untuk mendesain aplikasi atau website. Tujuannya adalah agar desain yang dibuat tidak hanya menarik namun juga berfungsi untuk dipakai oleh pengguna.
Nah, itulah 5 teori desain UX yang bisa menjadi referensi bagi para UX. Nantikan artikel selanjutnya yang akan membahas banyak teori dan tips UI dan UX.
Jika kamu mempunyai pertanyaan, silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa untuk share ke teman-temanmu jika artikel ini bermanfaat.
Terima kasih.