Artikel sebelumnya telah menjelaskan 5 teori desain UX beserta contohnya pada bagian 1. Selanjutnya, kita akan membahas 5 teori desain UX yang perlu dipahami selanjutnya dalam mendesain UI dan UX.
Sedikit merangkum apa yang sudah ditulis pada tulisan sebelumnya. Ada 5 teori yang dibahas di antaranya:
- The Aesthetic-Usability Effect: Jika tampilan sebuah desain itu menarik, pengguna akan lebih toleran kalau ada masalah kecil
- Doherty Threshold: ketika pengguna sedang mengunduh file, maka sistem tersebut harus memberikan feedback kepada user (download bar).
- Fitt’s Law: Teori ini menjelaskan tentang berapa banyak waktu yang digunakan untuk mencapai tombol
- Miller’s Law: Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki ingatan jangka pendek yang hanya mampu mengingat sebuah objek yaitu 7 (+/-2).
- Zeigarnik Effect: Teori ini menjelaskan bahwa manusia lebih mudah mengingat hal yang belum diselesaikan daripada yang sudah selesai.
Untuk penjelasan detil 5 teori di atas, kamu bisa baca melalui tautan ini.
Nah, di artikel ini akan menjelaskan 5 teori desain UX berikutnya yang tidak kalah menarik. Kamu juga bisa praktekkin teorinya ketika kamu mendesain UI/UX. Penasaran? Yuk, baca selengkapnya!
1. Hick’s Law:
Hukum Hick atau lengkapnya Hukum Hick-Hyman, menjelaskan bahwa dibutuhkan lebih banyak waktu untuk memilih pada banyak opsi daripada sedikit opsi.
Ada contoh sederhana, ketika kamu datang ke restoran untuk memesan menu makanan, maka kamu diberikan variasi menu dari mereka.
Jika menunya terlalu banyak, maka kamu akan mengambil keputusan dengan jauh lebih lama. Namun, jika menunya lebih sedikit, orang akan lebih cepat mengambil keputusan.
Contoh:
Menu yang banyak.

Menu yang sedikit.

2. Postel’s Law:
Sederhananya, kita perlu fleksibel dalam apa yang diterima dari pengguna dan membatasi apa yang kita minta dari pengguna. Hukum Postel ini juga dikenal dengan nama robustness principle.
Contoh penerapannya adalah ketika sebuah sistem meminta pengguna untuk mengisi asal negaranya.
Jika pengguna mengisi asal negaranya dengan singkatan seperti “ID”, sementara kita berharap nama lengkap negaranya, maka tinggal dikonversi saja dengan nama “Indonesia” tanpa perlu meminta mengisi ulang.
Contoh lainnya adalah bertanya pada hal yang perlu saja. Misalnya pada kanal Netflix, pengguna hanya diminta mengisi email saja untuk menonton film pada kanal Netflix.
Berikut adalah gambarnya:

3. Pareto Principle:
Prinsip ini menjelaskan tentang konsep 80/20. Maknanya, bahwa 20% fitur di website atau aplikasi akan menghasilkan 80% outcome.
Dengan kata lain, 80% pengguna dihasilkan dari 20% fitur yang ada pada website atau aplikasi.
Teori ini juga digunakan pada aspek produktivitas, yaitu 80% hasil itu dihasilkan dari usaha sebesar 20% saja.
Contohnya kita bisa melihat pada website Amazon, mereka meletakkan kolom negara Amerika Serikat secara otomatis. Karena mayoritas konsumen mereka berasal dari Amerika Serikat.
Hal ini tentu menghemat waktu bagi orang AS untuk membeli barang dari Amazon.
Berikut adalah contohnya:

4. Peak-end rule:
Teori ini menjelaskan bahwa orang menilai pengalaman menggunakan sebuah aplikasi atau website berdasarkan pada momen yang berharga.
Untuk itu, dalam mendesain sebuah aplikasi atau website, kita perlu merancang momen yang berkesan dan menghibur bagi para pengguna. Tujuannya untuk memberikan pengalaman yang terbaik kepada pengguna.
Sebagai contohnya dalam sebuah gim namanya Asphalt. Ketika pengguna bermain gim ini di ponsel mereka, pengguna akan merasa terhibur ketika mobil tersebut melompat tanjakan untuk melewati mobil yang lain.
Berikut adalah gambar cuplikannya:

5. Parkinson’s Law:
Teori ini menjelaskan bahwa ketika kita diberikan waktu yang sedikit untuk menyelesaikan sesuatu, biasanya kita akan menyelesaikan yang penting terlebih dahulu.
Misalnya ketika seorang siswa melaksanakan ujian dalam waktu 2 jam, maka siswa tersebut akan menyelesaikan soal yang lebih penting terlebih dahulu.
Contoh lain dalam aplikasi atau website adalah ketika kita membeli tiket perjalanan melalui kanal Bukalapak. Pembeli hanya diberikan waktu sekian menit untuk menyelesaikan pembayaran.
Sehingga pembeli akan mengutamakan membeli tiket daripada yang lain.
Di bawah ini adalah cuplikannya:

Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan 5 teori desain UX di atas dapat kita terapkan ketika mendesain sebuah aplikasi atau website.
Teori UX dan UI sama pentingnya dalam desain. Jika desain UX-nya bagus namun UI nya kurang menarik tentunya konsumen tidak tertarik mengunjungi website atau menggunakan aplikasi tersebut.
Begitu pula ketika desain UI-nya bagus namun UX-nya tidak, maka akan merugikan bagi pihak pemilik aplikasi atau website pengguna merasa tidak tertarik dengan tampilannya.
Yup, itulah lanjutan 5 teori desain UX bagian 2. Nantikan artikel selanjutnya tentang teori UX bagian 3.
Jika artikel ini bermanfaat buat kamu, jangan lupa untuk membagikan kepada yang lain karena sharing is caring. Jika kamu mempunyai pertanyaan/tanggapan silakan tulis di kolom komentar yaa!
Terima kasih.