Di balik kesempitan ada kesempatan. Mungkin ini kalimat yang tepat menggambarkan fenomena baliho. Yang terpampang di sudut-sudut kota di Indonesia belakangan ini.
Wajah-wajah figur politik tampak menghiasi tepi jalan raya di Tanah Air. Tidak ketinggalan foto wajah dengan senyum manis yang dibumbui dengan kata-kata mutiara menjadi primadona jalanan.
Di samping itu juga ada pesan esoteris (tersirat) seperti angka 2024 yang tercantum di baliho tersebut. Yang bisa juga diinterpretasikan sebagai Pemilu 2024.
Ada juga yang menuliskan jargon “Kepak Sayap Kebhinekaan”. Mungkin maksudnya kita perlu menjaga keberagaman. Padahal tanpa tulisan tersebut, Indonesia sejatinya sudah bhinneka dari awalnya.
Boleh jadi kalimatnya bisa lebih indah jika ditambah kata “Tunggal Ika” di belakangnya. Dalam kondisi sulit seperti sekarang, yang dibutuhkan tidak hanya kebhinekaan melainkan pula persatuan sekaligus.
Mohon maaf itu hanya selingan saja.

Di antara baliho politik yang terpajang ada gambar Puan Maharani (Ketua DPR-RI, PDIP), Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian, Golkar), dan Muhaimin Iskandar (Wakil Ketua DPR-RI, PKB).
Mereka semua saling perang baliho di pinggir jalan. Barangkali karena elektabilitasnya masih nol koma sekian. Sehingga perlu pengenalan yang lebih agresif. Supaya lebih dikenal luas oleh masyarakat. Meskipun itu tidak menjamin.
Seketika baliho tersebut riuh diperbincangkan di jagad maya. Menimbulkan pro dan kontra di belantara siber. Ada yang mendukung dan ada yang menolak.
Tetapi lebih nikmat tidak ikut dua kutub tersebut. Menjadi penonton kolom komentar di media sosial jauh lebih menarik. Daripada ikut-ikutan komentar yang tidak perlu.
Melihat cuitan netizen Indonesia yang bar-bar sangat menghibur untuk para rakyat jelata seperti saya. Kejulidan netizen Indonesia patut diacungi jempol.
Ribuan hujatan meluncur deras tak tertahankan. Amat menyenangkan untuk menstimulasi eudaimonia (kebahagiaan) di saat jenuh melanda.
Ketika warganet mengkritik baliho tentu hal yang amat wajar. Pasalnya, Pemilu 2024 masih lama. Kurang lebih 2 tahun lagi gaung politik baru akan ramai.
Mengapa geliatnya sudah dimulai dari sekarang? Hal tersebut menjadi raison d’etre mengapa publik bertanya-tanya.
Terlebih saat ini kondisi dan situasi Indonesia masih berjuang melawan Covid-19. Virus korona masih terus menghantui Tanah Air.
Suasana duka juga masih menyelimuti hati rakyat. Yang terus berjuang mencari sesuap pagi dan sesuap petang.
Sangat tidak elok nian di saat musibah ada yang memanfaatkan untuk pencitraan politik. Para politisi tersebut dianggap miskin simpati dan empati di tengah kondisi yang serba kelabu.

Alih-alih ikut proaktif melawan virus, justru mereka melakukan jor-joran promosi politik untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Ironis memang melihat kondisi rekayasa pencitraan yang cenderung niradab.
Ihwal di atas merupakan keresahan relung hati publik. Yang saya tangkap dari kolom komentar di berbagai media sosial.
Kendati banyaknya kritik yang menyeruak, sebagai warga negara yang baik, tentu perlu melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang ada di Tanah Air.
Sehingga saya patut berterima kasih atas eksistensi baliho tersebut. Karena ada dampak positif yang dapat dipetik.
Pertama, saya berterima kasih karena dengan adanya baliho tersebut, memberikan angin segar bagi perusahaan jasa desain dan kroni-kroninya. Bak mimpi di siang bolong di tengah lesunya ekonomi di saat pandemi.
Tanpa banyak cingcong, para tokoh-tokoh politik tersebut langsung mengucurkan uangnya ke pengusaha baliho. Inilah yang disebut trickle-down effect (efek tetesan ke bawah) dari pemasaran politik (political marketing).
Dalam tulisan Taufik Lamade di Disway yang berjudul Baliho, menyebutkan bahwa ongkos pembuatan dan pemasangan baliho 16 x 8 meter bisa mencapai Rp 15 juta.
Belum lagi pajaknya. Biayanya bisa mencapai miliaran rupiah jika tersebar di ribuan titik.
Di saat banyak pihak yang mengkritik, para pengusaha advertising justru mendulang cuan yang tidak sedikit.
Mereka tentu bodo amat dengan narasi pejoratif yang bermunculan. Yang penting kantong jangan sampai kering. Supaya dapur rumah terus ngebul.
Kedua, saya berterima kasih karena adanya baliho tersebut, memberikan hiburan gratis bagi masyarakat. Meme-meme lucu bertebaran di mana-mana. Ungkapan satire-jenaka begitu mewarnai atmosfer media sosial.
Dalam sekejap, wajah-wajah muram akan bisa sumringah seketika. Tentunya dibarengi dengan geleng-geleng kepala atau tepok jidat. Sembari bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah ini negeri Indonesia atau negeri baliho?
Baliho mereka secara tidak langsung juga ikut memperindah kota-kota di Indonesia. Paling tidak menjadi warna baru di tengah baliho pandemi, baliho rumah makan, dan baliho sedot WC.
Sehingga Pemkab tidak perlu repot-repot membuat anggaran keindahan kota. Cukup dengan baliho sudah mampu membuat jalan-jalan protokol tampak mempesona. Gratis dan tidak perlu biaya.
Tinggal ditarik pajaknya saja. Dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, pose politik bisa dijadikan sebagai konten yang hujatable untuk menaikkan followers dan social media engagement. Pun, bisa jadi pelampiasan rasa jemu tak terperi selama pandemi.

Ketiga, saya berterima kasih karena dengan adanya baliho tersebut, bisa menjadi ajang testing the water (cek ombak) sebelum 2024. Untuk mengetahui bagaimana respon publik terhadap ihwal tersebut.
Hasilnya tentu sudah kita ketahui, banyak sekali pihak yang mengkritik. Ini mampu menjadi sinyalemen bahwa publik semakin kritis dan rasional dalam kancah politik.
Di samping itu pada tahun 2024 mendatang preferensi pemilih muda akan sangat dominan. Maka untuk mendapat dukungan mereka perlu strategi kampanye kekinian yang tidak terlalu konvensional ala baby boomers.
Segmen pemilih muda adalah pemilih yang rasional dan kritis. Sehingga perlu pendekatan yang berbeda untuk menggaet suara generasi langgas. Jika tidak, akan terus digrenengin milenial yang cuap-cuap di media sosial.
Sebagaimana kalimat pembuka di atas, di balik kesempitan ada kesempatan. Suasana sempit saat ini adalah kesempatan untuk mengutamakan kemanusiaan di atas segalanya.
Pendekatan altruis amat diperlukan pada saat krisis dan kritis.
Kalau saja anggaran baliho di-realokasi untuk membantu rakyat tentu akan sangat bermanfaat.
Layaknya sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui, partai politik yang mampu mengambil kesempatan tersebut justru meringankan beban negara sekaligus menaikkan elektabilitas partai tersebut.
Publik akan bertepuk tangan untuk mereka.
Namun di antara perang baliho yang terjadi, uniknya ada pendatang baru yang mengambil kesempatan untuk mempromosikan jualannya.

Dengan melihat momentum, Kaesang Pangarep memposting foto baliho di akun instagramnya dengan jargon “Saya Siap untuk RI 1”.
Yang dimaksud dengan RI 1 adalah Roti Indonesia 1. Bisnis putra Presiden dengan rekan-rekannya.
Bagi saya ini merupakan kecerdikan Kaesang memanfaatkan momentum untuk mengenalkan barang dagangannya ke publik. Dengan teknik marketing yang kreatif nan unik.
Sebagai penutup, di antara perang baliho Puan Maharani, Airlangga Hartarto, dan Cak Imin bagi saya pemenangnya adalah Kaesang Pangarep.
Baliho politik belum tentu mengerek elektabilitas tokoh-tokoh politik.
Namun, apa yang dilakukan Kaesang sudah bisa dipastikan menaikkan elektabilitas produknya ketika nanti sudah dijual di pasaran.
Salam hangat.
AZM
foto latar belakang: Media Indonesia