Jujur saja, sejak lama saya ingin vaksin di Malaysia. Namun, hal yang membuat saya malas adalah regulasi kampus yang cukup merepotkan.
Pasalnya, kalau vaksin di luar kampus maka harus karantina mandiri di Mahallah (arti: asrama) Shalahuddin.
Mahallah yang cukup jauh dari asrama saya. Yang lokasinya harus ditempuh dengan melewati gunung dan lembah. Bahasa hiperbolanya begitu.
Kalau tidak punya kendaraan, malas nian rasanya. Jika vaksin di luar kampus waktu karantinanya 1 minggu.
Tidak boleh ke mana-mana. Makan, tidur, belajar semuanya di sana. Praktis saya harus menyiapkan perlengkapan dan peralatan jika vaksin di luar kampus. Ribet sekali.
Sementara saya punya banyak agenda yang harus dikerjakan di kamar. Akhirnya saya berinisiatif mengusulkan ke pihak kampus untuk mengadakan vaksinasi. Disampaikan melalui organisasi pelajar Indonesia di IIUM.
Ternyata usulan saya juga sudah disampaikan oleh pihak lain. Namun belum ada tanda-tanda positif dari pihak universitas.
Padahal saya dan banyak mahasiswa lain sudah mengurung diri di kampus hampir 1 tahun. Artinya dalam kurun waktu tersebut penghuni asrama tidak keluar ke mana-mana. Kecuali hanya untuk urusan mendesak.
Seharusnya menjadi atensi kampus untuk segera mengadakan vaksinasi. Sebagai upaya mempercepat herd immunity. Namun entahlah mengapa belum juga terealisasi.
Kendati demikian, seiring dengan berjalannya waktu, kabar baik muncul. Bahwa pihak IIUM berkolaborasi dengan Negeri Selangor untuk mengadakan vaksinasi kolosal.
Dengan tujuan untuk mempercepat herd immunity. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Besar Selangor, Datuk Seri Amirudin Shari. Menteri Besar adalah jabatan mirip seperti Gubernur di Indonesia.

Istilahnya disebut dengan Pusat Pemberian Vaksin atau disingkat PPV. Program PPV ini diselenggarakan melalui Selangor Vaccine Programme (SelVAX) yang diadakan selama 2 hari. Dari tanggal 17-18 Agustus 2021.
Saya amat berterima kasih kepada Negeri Selangor atas dukungan terhadap program tersebut.
Vaksinnya gratis tanpa dipungut biaya. Tinggal daftar atau walk-in sudah bisa langsung disuntik.
Dan satu lagi yang paling saya syukuri: tidak perlu karantina di Shalahuddin. Bagi yang vaksin di dalam kampus diperkenankan untuk karantina di kamar masing-masing.
Vaksinasi dilakukan pada tanggal 17-18 Agustus 2021. Disampaikan melalui poster yang diumumkan oleh pihak kampus. Selama 2 hari ini total 3000 dosis vaksin disiapkan untuk mahasiswa dan staf di IIUM.
Syarat untuk mendapatkan vaksin di antaranya:
- Belum pernah vaksin
- Melakukan registrasi vaksin di MySejahtera
- Mengunduh aplikasi SELANGKAH di Play/Apps store
- Usia 18 tahun ke atas
- Menetap di dalam kampus
Saya pun langsung bergegas untuk berangkat. Saya memilih tanggal 17 Agustus untuk vaksin. Selain lebih cepat juga bersamaan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Momentumnya pas. Meskipun tidak ada hubungannya.
Saya pergi ke Cultural Activity Center (CAC) IIUM pukul 15.00 MYT. Jalan kaki sekitar 15 menit dari asrama.
Sesampainya di pintu depan CAC, saya melakukan konfirmasi registrasi dengan MySejahtera. Setelah valid, kemudian dipersilakan untuk mengantre di dalam.

Di dalam ruangan, saya hanya diminta mengisi formulir yang berisi data diri. Setelah itu menunjukkan paspor sebagai identitas diri. Untuk ditunjukkan ke pihak panitia. Yang selanjutnya akan dimasukkan datanya ke dalam sistem.
Saya betul-betul walk-in. Tidak perlu daftar di aplikasi SELANGKAH. Bagi yang ingin mendaftar juga tidak masalah.
Sebelum divaksin, terlebih dahulu saya ditanya oleh dokter jaga setempat. Mengenai riwayat kesehatan dan efek samping pasca vaksin. Alhamdulillah aman. Juga ditanya apakah bersedia vaksin dengan Sinovac? Saya jawab iya.
Setelah mendapatkan stempel dari dokter yang berada di situ, saya diminta tunggu sebentar sampai memperoleh giliran.
Selang beberapa menit, saya dipanggil masuk dan dipersilakan untuk duduk. Sebelum disuntik, perawat yang menyuntik menunjukkan vaksinnya. Untuk meyakinkan saya bahwa vaksinnya adalah Sinovac.
Saya mengiyakan.
Kemudian saya diminta untuk menyingsingkan lengan baju saya sebelah kiri. Tanpa banyak fa fi fu, jarum suntiknya ditancapkan ke lengan kiri saya. Rasanya seperti digigit semut. Tidak sakit sama sekali.
Setelahnya, saya diminta menunggu 15 menit, kalau tidak ada efek samping atau keluhan lainnya, saya dipersilakan untuk pulang.

Hikmah yang dapat dipetik adalah simplisitas vaksin di Malaysia yang mudah dan tidak ribet.
Tidak perlu ada glorifikasi atau perayaan yang berlebihan di Malaysia. Penjagaan dari aparat juga sewajarnya. Pejabatnya pun juga tidak heboh.
Istilah pembatasan sosial di Malaysia juga mudah dipahami. Sebutan yang digunakan adalah Movement Control Order (MCO) yang dibuat bertingkat. Sepeti MCO 1.0, 2.0, 3.0 dan seterusnya.
Tidak ada istilah yang membingungkan seperti PSBB, PPKM, PPKM Mikro, dan lainnya. Kebijakannya di Malaysia dibuat simpel dan mudah diketahui.
Ini tidak lepas dari kebijakan yang berdasarkan pada sains (science-based policy). Bukan kebijakan yang berdasarkan viralitas media sosial (viral-based policy). Yang bicara soal kebijakan vaksin juga hanya beberapa orang saja. Tidak semua pejabat bicara.
Meskipun kasus Covid-19 di Malaysia masih tinggi tetapi setidaknya penanganannya jauh lebih baik.
Tulisan ini merupakan pengalaman saya sebagai mahasiswa yang mendapatkan vaksin di Malaysia. Tentu ada sisi subjektif dari pendapat saya di atas. Sekali lagi mohon maaf. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua.
AZM