Polemik Jalan Atatürk: Perspektif Agama atau Diplomatik?

Awalnya saya tidak tertarik. Namun lama-lama jadi terpikat. Mengenai penamaan jalan Mustafa Kemal Atatürk di Indonesia. Yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Tanah Air.

Tidak tahu mengapa saya agak gregetan melihat isu ini. Mungkin karena ada argumen yang menggelitik pikiran saya. Ya sudah, akhirnya saya buat tulisan ini.

Penamaan Jalan Atatürk di Indonesia menimbulkan pro-kontra. Ada yang setuju dan yang menolak. Hal ini bukan masalah. Wajar saja adanya perbedaan pendapat.

Poin pentingnya adalah mencari sudut pandang yang tepat dalam melihat perdebatan soal nama aspal ini.

Source: Pinterest

Sebelum kita mencermati dua kutub pandangan yang berlainan, ada baiknya kita melihat mengapa ada wacana penamaan Jalan Atatürk di Indonesia.

Dilansir dari Tempo, menurut Dubes RI untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal, pemerintah Indonesia meminta agar nama jalan di depan KBRI Ankara diganti menjadi jalan Ahmet Soekarno.

Sebab nama jalan di depan KBRI Ankara masih menggunakan nama Belanda, yakni Holanda Cadesi (Tempo, 2021).

Sebagai balas budi diplomatik, maka akan ada pemberian nama jalan Bapak Bangsa Turki di Jakarta. Pemerintah Turki pun menyetujui permintaan ini.

Kewenangan nama jalan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah Turki. Pemerintah Indonesia tidak cawe-cawe hal tersebut. Ihwal ini perlu digarisbawahi.

“Kedutaan (Turki) ingin mengklarifikasi bahwa penamaan suatu jalan sebagai ‘Jalan  Atatürk’ telah diterima secara resmi oleh pemerintah Indonesia, baik secara tertulis melalui nota diplomatik yang diberikan oleh pihak Indonesia, maupun secara lisan,” demikian pernyataan Kedubes Turki kepada CNNIndonesia.com, Jumat (22/10).

KBRI Ankara, source: Wikipedia

Pernyataan tersebut paling tidak sudah ada akad antara pemerintah Turki dan Indonesia. Resepsinya belakangan. Ketika Presiden Erdoğan datang ke Indonesia nantinya.

Dugaan kuat nama jalan yang diberikan adalah jalan Mustafa Kemal Atatürk. Di salah satu ruas jalan protokol di Jakarta.

Duduk perkaranya sudah jelas. Sekarang mari kita cermati dua diferensiasi pandangan mengenai penyebutan Jalan Atatürk. Supaya objektif dan tidak bias kognisi. 

Kalau kata Sastrawan Besar Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan (Bumi Manusia, 1975).

Oke, mulai dari pendapat yang menolak dulu.

Pihak yang kontra menganggap bahwa Atatürk pemikirannya sesat dan menyesatkan. Tindakannya bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah. Atatürk juga dianggap merusak ajaran Islam.

Di antara kebijakan yang diterapkan Atatürk adalah mengubah Masjid Hagia Sophia menjadi museum, melarang kerudung dikenakan di institusi pemerintahan, dan mengganti azan berbahasa Arab dengan bahasa Turki.

Apakah pendapat itu salah? jawabannya tidak. Pendapat itu benar karena didasarkan pada fakta sejarah yang ada.

Source: Pinterest

Sementara pihak yang setuju beranggapan bahwa hadiah nama jalan Atatürk itu merupakan kepentingan diplomatik. 

Di mana nama Atatürk merupakan hak istimewa Turki untuk menentukan namanya. Terlepas dari segala kontroversi yang melekat pada sosok Atatürk. 

Bagaimanapun Mustafa Kemal Atatürk adalah founding father Turki yang mempunyai peran penting dalam pendirian Republik Turki. 

Atatürk berjasa melahirkan reformasi ekonomi, hukum, pembangunan, dan lainnya yang menjadikan Turki sebagai negara modern.

Bahkan Presiden Erdoğan pun menghormatinya. Bisa dilihat potret gambar Atatürk banyak bertebaran seantero Turki.

Dalam tulisan salah satu senior HMI Turki, Savran Billahi,  yang berjudul “Kontribusi Mustafa Atatürk bagi Islam dan Sains yang Sering Dilupakan” memberikan perspektif baru dalam melihat figur Atatürk.

Di dalam artikelnya, Savran menuliskan penggalan pidato Recep Tayyip Erdoğan saat memperingati Hari Wafat Atatürk (Atatürk Anma Töreni) pada 10 November tahun lalu di Pusat Kongres dan Kebudayaan Nasional Besetepe, Ankara.

“Kami telah mencapai tujuan negara kami di banyak bidang, kami juga akan berhasil masuk 10 besar ekonomi terkuat di dunia. Saya percaya ini akan menjadi hadiah terbesar untuk Gazi Mustafa Kemal (Kamâl) Atatürk,” ucap Erdoğan dalam pidatonya.

Kutipan pidato Erdoğan membuktikan bahwa masyarakat Turki amat menghormati Atatürk di luar segala polemiknya. 

Mustafa Kemal Atatürk, Source: Pinterest

Pertanyaannya, apakah pihak yang pro terhadap nama jalan Atatürk keliru? Jawabannya tidak. Karena melihat konteks ini dengan perspektif diplomatik.

Sehingga pendapat yang pro dan kontra terhadap nama jalan Atatürk di Indonesia sama-sama benarnya. Karena masing-masing didasarkan pada sudut pandang dan fakta sejarah.

Jika sama benarnya, lalu perspektif mana yang tepat digunakan dalam melihat konteks ini?

Pandangan penulis pribadi tentu cenderung pada perspektif hubungan diplomatik. 

Mengapa demikian? 

Karena ini adalah persoalan diplomatik bukan persoalan agama. Sehingga sudut pandang yang cocok diterapkan adalah kerangka diplomatik.

Tidak ada maksud untuk mengenyampingkan Islamic worldview dalam melihat konteks hubungan diplomatik. Karena Indonesia sendiri bukanlah negara Islam. 

Indonesia adalah negara multikultural yang meliputi berbagai etnis, ras, dan agama. Sehingga perspektif negara perlu digunakan daripada perspektif agama tertentu.

Selain itu, Savran juga menuliskan cuitan di Twitter yang patut direnungkan oleh kita semua. Yakni ketika melihat Turki harus dari perspektif orang Turki. Bukan dari perspektif pribadi, agama, dan lainnya. 

Jika tidak, maka akan banyak orang Indonesia yang mungkin lebih Turki daripada orang Turki itu sendiri. Mohon maaf sekali.

Saya justru menyambut baik peristiwa tukar guling nama jalan antara Indonesia dan Turki. Sebagai momentum untuk memperkuat kerja sama antar kedua negara.

Yang sudah terjalin sejak abad ke-15 ketika Raden Patah menerima pengakuan dari Turki sebagai wakil Kesultanan Utsmaniyah di Pulau Jawa (Kemenlu, 2018).

Gli-Hagia Sophia’s Cat, Source: Pinterest

Begitu pula divergensi opini yang berkembang, juga berguna sebagai medium untuk menghidupkan tradisi intelektual di Indonesia mengenai sosok Atatürk. 

Sebagaimana kata Eric Hoffer, “The beginning of thought is in disagreement, not only with others but also with ourselves.”

Saya meyakini masih banyak the untold story (cerita yang belum terungkap) mengenai tokoh Atatürk.

Mudah-mudahan dengan adanya polemik nama jalan Atatürk menjadi sarana untuk mencari sintesis (titik temu) di antara tesis dan antitesis yang ada. 

Yang pro silakan. Yang kontra silakan. Yang penting tidak saling menyalahkan. Akhir kata, semoga mencerahkan.

AZM.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top