Dalam setiap perjalanan selalu ada pelajaran kehidupan yang bisa dipetik. Ini yang saya alami sewaktu saya pulang dari Malaysia ke Indonesia. Karena sudah selesai masa studi S1.
Pada waktu menaiki bus dari Bandara Soekarno-Hatta ke Wisma Pademangan untuk karantina, ada keluarga kecil yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan sepertinya bersama cucunya, duduk di sebelah saya. Usia Bapak dan Ibu tersebut sudah uzur terlihat dari penampilan fisiknya.
Ketika mereka bercakap, dari logatnya fasih berbahasa melayu. Tetapi saya mengira mereka adalah orang Indonesia yang ‘sudah lama’ tinggal di Malaysia. Sampai berkeluarga dan beranak-pinak di sana.
Selang beberapa waktu, bus yang kami naiki sampai ke Wisma Pademangan. Namun harus menunggu antrean pendaftaran yang memakan waktu sekitar 3 jam. Sehingga kami diminta tetap duduk di dalam bus.
Ketika menunggu, ramai para penjual makanan, minuman, pulsa, dan lainnya yang menawarkan barang dagangannya kepada penumpang.
Mereka menawarkan jualannya dengan metode fear marketing (pemasaran ketakutan) untuk membuat calon pembeli merasa tidak punya pilihan. Lalu mereka menaikkan harganya dengan nominal yang tak masuk akal.

“Bapak-Ibu nanti di Wisma udah nggak ada makan malam, jadi kalau nggak makan sekarang bakal kelaparan sampai besok pagi,” ucap seorang penjual.
“Yang butuh pulsa atau sim-card silakan dibeli bapak-Ibu karena di dalam Wisma nggak ada yang jual. Kalau sayang anak, istri, dan keluarga silakan ini dibeli, tinggal langsung pakai, nggak perlu registrasi,” kata penjual lainnya.
Bayangkan saja harga 1 plastik kerupuk Rp20.000. Kemudian sim-card beserta paketnya dijual dengan harga Rp100.000. Ada pula batagor dijual dengan harga Rp30.000. Dan masih banyak barang lainnya dengan harga berlipat-ganda.
Saya yang mendengarnya geleng-geleng kepala. Mulut saya ngempet nahan ketawa. Hati saya berkata: bajigur tenan iki. Karena fenomena tersebut menunjukkan bahwa saya sudah di Indonesia. Bukan di negara lain.
Seketika, para penumpang di bus saya yang mayoritas Pekerja Migran Indonesia (PMI) langsung membeli barang kebutuhan mereka. Dengan harga yang fantastis. Tanpa pikir panjang. Termasuk keluarga kecil di sebelah saya.
Mereka membeli makanan, kerupuk, sim-card, dan lainnya yang jumlahnya saya taksir lebih dari Rp100.000. Setelah menikmati sajian makan malam, mereka segera menelpon sanak famili dengan sim-card yang barusan dibeli.
Namun, tiba-tiba mereka menanyakan ke saya mengapa salah satu sim-card tidak bisa digunakan. Mereka meminta tolong saya untuk mengaturnya. Saya pun membantu sebisanya.
Saya coba registrasi masih belum bisa. Saya restart hp-nya juga masih nggak jalan. Dicobacoba utak-atik lewat menu pengaturan juga tidak berhasil.
Lalu saya teringat satu hal: HP mereka (sepertinya) belum mendapatkan IMEI karena dibeli di Malaysia. IMEI merupakan registrasi HP yang dibeli dari luar negeri ke Indonesia melalui Bea Cukai.
Terjadilah percakapan singkat dengan keluarga kecil ini dengan Bahasa Melayu.

Dugaan saya pun benar, mereka adalah orang Indonesia yang sudah tinggal di Malaysia sejak 20 tahun lalu. Sudah tentu mereka tidak tahu apa itu IMEI dan kroni-kroninya. Karena itu regulasi baru di Indonesia.
Alasan mereka membeli sim-card tersebut sudah tentu karena fear (takut). Khawatir tidak bisa menghubungi keluarga karena ditakuti oleh penjual pulsa tadi. Apalagi usia mereka sudah senja. Sementara cucunya masih seusia anak SD. Saya pun memaklumi itu.
Dengan berat hati saya minta maaf kepada keluarga kecil ini karena belum bisa menyelesaikan masalahnya. Mereka rugi Rp100.000 (RM30). Sungguh apes keluarga ini. Kasihan sekali.
Namun saya berikan tips jika ingin membeli sim-card untuk memastikan sampai bisa digunakan. Jika tidak, bisa dikembalikan ke penjualnya. Supaya tidak rugi banyak.
Kami kemudian turun dari bus untuk melakukan registrasi kamar di Wisma.
Setelah registrasi selesai, saya pun menyadari bahwa di dalam Wisma juga dapat makan malam. Pulsa dan sim-card pun dijual dengan harga yang lebih miring. Makanan berat pun dijual dengan lebih murah daripada di bus tadi.
Dalam benak saya, para penjual itu sukses mengelabui penumpang bus tadi. Dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Haishhhh…..nganyeli tenan.
Fear marketing adalah salah satu strategi marketing yang digunakan untuk menjual produk dengan menakut-nakuti calon pembelinya. Poin pentingnya ada di emosi target konsumen. Agar mereka merasa FOMO (fear of missing out) jika tidak membeli produk yang dijual.
Strategi tersebut sah-sah saja digunakan dalam bisnis. Bagaimanapun pedagang juga mencari profit dari usahanya. Tidak ada yang salah dengan itu. Tinggal bagaimana kita menanggapinya.
Agar tidak terlalu terpengaruh fear marketing kuncinya: utamakan rasional daripada emosi. Berpikir rasional amat ditentukan oleh kualitas literasi. Sehingga tidak menjadi FOMO terhadap suatu produk.
Apakah fear marketing itu etis? Jawabannya tergantung dari perspektif masing-masing. Bagi pedagang itu etis saja, karena bagi mereka yang penting cuan. Berbeda dengan konsumen yang sudah tentu lain pendapat soal tersebut.
Akhir kata, fear marketing emang nyenengin buat pedagang tapi juga ngeselin buat pembelinya. Sekian.
AZM