Untuk kesekian kalinya saya merayakan Idul Adha di perantauan. Kali ini dengan suasana yang berbeda.
Dari yang biasanya salat Idul Adha dilaksanakan secara berjamaah. Kini hanya dilakukan seorang diri. Di sebuah kamar yang sudah tak berpenghuni.
Di situlah saya salat. Berlabuh di atas sajadah merah. Untuk berserah diri pada yang Maha Perkasa. Fisik disiapkan, hati-pun dimantapkan.
Ditemani dengan sinar matahari pagi dan wangi semerbak kotoran kucing yang berada di luar kamar.
Pagi hari menjelang fajar menyingsing, kalimat takbir digemakan secara repetitif sebagai manifestasi ibadah vertikal (hablumminallah) bagi hamba Allah yang berkurban.
Walaupun untaian takbir tidak semeriah seperti pada normalnya, namun pandemi COVID-19 mengajarkan manusia untuk mencintai Allah. Melalui kesunyian, kesepian, dan keheningan. Di tengah hiruk-pikuk pandemi yang tak kunjung usai.

Kata demi kata, kalimat demi kalimat, Allah mendengarkan hambanya yang melafalkan takbir dari tempatnya masing-masing.
Di tengah keheningan tersebut, kalimat takbir tidak hanya membasahkan bibir seorang insan. Namun juga menyentuh kalbu untuk mengetuk pintu langitNya. Manusia berbisik pada Tuhannya bahwa kita bukanlah siapa-siapa.
Bait demi bait takbir meresap ke relung hati. Menjadi penyejuk gersang jiwa, penentram batin, dan penyegar dahaga spiritual untuk meraih konsekrasi (keberkahan) kepada Sang Ilahi.
Suasana Idul Adha yang syahdu ini tersimpan makna anagogis (spiritual). Tentang kedalaman cinta (mahabbah) dan kedekatan kepada Sang Ilahi (taqarrub). Di sela-sela musibah yang menimpa umat manusia saat ini.
Diksi-diksi takbir yang terucap menghilangkan segala jenis kesombongan dan gengsi manusia.
Meluruhkan sekat-sekat borjuisme dan glamorisme. Bahwa Idul Adha memberikan makna tersirat (esoteris) untuk mengorbankan “kepemilikan” demi membantu sesama manusia.
Secara historis, perintah berkurban merupakan ketulusan dan perjuangan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Allah memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim melalui mimpinya, untuk menyembelih Nabi Ismail. Putra yang amat dicintainya.
Nabi Ibrahim merasakan kepedihan yang mendalam jika harus mengorbankan putranya, Ismail.
Rupanya, tanggapan Nabi Ismail sungguh di luar dugaan. Ismail meminta ayahnya untuk menaati perintah Allah SWT kepadanya.
Nabi Ismail mengatakan, “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku Insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah Allah.” (QS. Ash-Shaffat:102)
Setelah mendengarkan jawaban anaknya, Nabi Ibrahim lantas melaksanakan perintah Allah. Namun, dengan kasih sayangNya, Allah membolehkan menggantinya dengan domba.
Domba pengganti Nabi Ismail itulah yang menjadi asal usul kurban pada Idul Adha yang kita laksanakan setiap tahun.
Melalui cerita tersebut, ada makna alegoris bahwa Allah tidak ingin mengorbankan manusia. Melainkan untuk mengorbankan ego manusia dan cinta dunia sebagai bentuk desakralisasi syahwat duniawi.

Atmosfer Idul Adha
Atmosfer Idul Adha pada saat pandemi menyadarkan manusia bahwa beragama bukan hanya sebatas simbolik (ritual) belaka. Namun, lebih dari itu. Mendapatkan esensi beragama adalah yang utama.
Bagi umat Islam, tentu shalat Idul Adha secara berjamaah besar pahalanya. Kendati demikian, ada kaidah fikih yang perlu diperhatikan. Yakni Jalbu al-Mashalih wa Daf’u al-Mafasid: meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan (kerusakan).
Melaksanakan salat berjamaah di tengah pandemi yang semakin parah tentu amat membahayakan bagi nyawa manusia.
Dengan begitu, meniadakan salat berjamaah adalah solusi terbaik untuk mencegah musibah yang lebih besar. Sembari masih mendapatkan manfaat.
Konsekuensinya, kemeriahan Idul Adha tidak bisa kita rasakan. Namun tidak lantas menghilangkan substansi dan kekhidmatan dalam beribadah.
Idul Adha kali ini secara esoteris (arti: tersirat) memberikan banyak pesan-pesan kemanusiaan universal.
Secara spiritual, tanpa disadari atau tidak, pandemi ini menyadarkan bahwa semua orang dituntut untuk memahami agamanya sendiri.
Mungkin selama ini kita mengandalkan Imam Masjid untuk memimpin salat.
Tetapi, hal itu mustahil dilakukan.
Pandemi ini membuat para Imam di keluarga diharuskan memahami tata cara dan sunnah menyelenggarakan salat Idul Adha.

Kedua, Idul Adha menyadarkan bahwa tidak semua harta adalah milik kita. Ada sebagian harta yang harus dibagi sama rata kepada saudara kita yang tertimpa malapetaka.
Idul Adha mengajarkan nilai-nilai keadilan bagi sesama umat manusia.
Ketiga, Idul Adha juga menumbuhkan rasa solidaritas sosial (social embeddedness) dan kebersamaan tekad (shared intentionality).
Melalui daging kurban yang dibagikan, merekatkan kohesivitas sosial antara pemberi dan penerima daging. Menumbuhkan rasa silih asah, silih asih, dan silih asuh.
Terlebih di saat pandemi, asupan gizi dari daging kurban sangat bermanfaat untuk meningkatkan imunitas di tengah pageblug.
Lebaran Haji kali ini juga menyadarkan saya sebagai manusia yang penuh khilaf dan dosa.
Bahwa melaksanakan salat Idul Adha dengan penuh khidmat merupakan rasa syukur yang luar biasa. Dimensi etis-spiritualitas begitu terasa.
Meskipun tidak mampu merasakan nikmatnya opor ayam, harumnya daging rendang, dan hangatnya suasana keluarga di rumah.
Setidaknya saya masih merasakan nikmat sehat untuk melangsungkan salat di sebuah bilik kecil.
Sementara, banyak sekali di luar sana yang menjalankan salat dengan perasaan was-was dan khawatir. Tentang bagaimana bertahan hidup di tengah kondisi pageblug.
Akhir kata, Selamat Idul Adha 1442 H. Idul Adha memberikan makna asketisme yang memanifestasikan nilai-nilai kesederhanaan dan pengorbanan.
Semoga kita menjadi manusia yang saleh secara spiritual dan sosial. Manusia yang berkurban bukan menjadi korban.
21 Juli 2021